Popular Post

Popular Posts

Posted by : Antho Smansata Monday, April 16, 2018


                   Kecanggiham teknologi, perkembangan internat, dan munclnya berbangai macam megdia sosial smakin memudahkan kitaa untk mndapatkan informasi sertaa berkomunikasi. Keberadaan teknologi, internet, serta media sosial membawa pengaruh yang berbeda pada setiap orang. Dalam dunia pendidikan khususnya, pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar sering terlihat sebagai pengaruh buruk terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini mungkin saja terjadi karena siswa biasanya lebih memilih untuk beraktivitas online di media sosial dari pada belajar. Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa ini membuat siswa malas untuk belajar dari buku catatan hingga akhirnya menurunkan prestasi belajar

.                Namun sebenarnya hal ini bisa disiasati yang akhirnya bisa membawa dampak baik dari pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa. Dengan memanfaatkan media sosial dalam proses belajar, pembelajaran para siswa bisa semakin menarik dan para siswa pun bisa jadi semakin termotivasi untuk belajar. Proses belajar sendiri sebenarnya merupakan sebuah proses penyampaian ilmu pengetahuan dan informasi. Hal ini sesuai dengan fungsi dan peran media sosial untuk menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan dengan cara yang lebih praktis dan interaktif.

               Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar bisa dibawa ke arah yang lebih baik dengan menggunakan media sosial sebagai sarana pembelajaran. Para guru bisa membuat sebuah grup belajar di dalam media sosial dan bisa berbagi materi pembelajaran dengan format yang lebih menarik seperti video atau info dalam gambar. Selain itu para siswa juga bisa berbagi hasil temuannya tentang materi pelajaran yang disampaikan. Dengan begini, guru dan siswa bisa ikut aktif serta interaktif sehingga membawa dampak positif pada pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar.
             Selain mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan, para siswa juga bisa belajar tentang teknologi informasi serta belajar memilih informasi yang benar untuk diserap dan dibagikan ke pada teman-teman serta gurunya. Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar juga menjadikan ruang kelas tanpa batas, yakni dengan proses pembelajaran e-learning yang tidak terbatas ruang kelas, jarak, dan waktu.
PAULO FREIRE
       Teori Pendidikan Hadap Masalah
Pendidikan “hadap-masalah” sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik.

Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadaran intransitif , dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas.
Tingkat kesadaran kedua yakni kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan.
Tingkat ketiga adalah kesadaran naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.
Sedangkan tingkat kesadaran yang terakhir yakni kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.

CONTOH :

       Penyalah gunaan Teknologi bagi kalangan siswa dpat mmembuat siswa menjadi tidak terfokus pada belajarnya dan yg menjadi faktor utama siswa adalah sosial media dan penyalah gunaan internet itu dapat membuat siswa menurun hasil belajarnya. Tetapi jika teknologi di manfaatkan untuh hasil yang positif ,aka itu sangat berguna untuk siswa


OLEH:

ZULFIANTO ABU BAKAR
SOSIOLOGI VI D
10538329515

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Zulfianto Abubakar - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -