Recent post
Archive for 2018
NAMA : ZULFIANTO ABUBAKAR
NIM: 10538329515
KELAS : SOSIOLOGI 6 D
-------------------------------------------------------------------
LEBIH JELAS KLIK BACA DISINI
Judul yg ingin di teliti : Pengaruh Sosial Terhadap Prestasi
Belajar Siswa
·
Rumusan Masalah
- Apakah Sosial bisa mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa?
- Bagaimana Cara mengatasi siswa yang mempunyai Kelompok sosial yg negatif?
- Apa saja pengaruh positif siswa terhadap kelompok sosial?
- Mengapa kelompok sosial mempunyai pengaruh positif dan negatif?
·
Tujuan Penelitian
- Mengetahui pengaruh sosial terhadap prestasi belajar siswa
- Agar mengatasi siswa yang mempunya kelompok sosial yang negatif
- Mendeskripsikan pengaruh siswa terhadap kelompok sosial
- Mengklarifikasikan pengaruh positif dan negatif dalam kelompok sosial
·
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat Teoritis
Penilitian ini diharapkan berguna bagi siswa yang mempunyai sosial agar
bisa mengetahui hal-hal yang berguna dan yang tidak berguna dalam bersosial,
seperti kelompok sosial yang menjadi acuan siswa untuk meningkatkan motivasi
belajarnya sehingga terbengkalai karena siswa tidak mampu membedakan kelompok
sosial bernilai positif dan negatif.
2.
Manfaat Praktis
Bagi
siswa, diharapkan dapat membedakan positif dan negatif dalam bersosial sehingga
dapat meningkatkan motivasi belajarnya sesuai kelompok sosial yang dipilih
Nama : Zulfianto Abubakar
Kelas: D Sosiologi
Nim: 10538329515
Kecanggiham teknologi, perkembangan internat, dan munclnya berbangai macam megdia sosial smakin memudahkan kitaa untk mndapatkan informasi sertaa berkomunikasi. Keberadaan teknologi, internet, serta media sosial membawa pengaruh yang berbeda pada setiap orang. Dalam dunia pendidikan khususnya, pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar sering terlihat sebagai pengaruh buruk terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini mungkin saja terjadi karena siswa biasanya lebih memilih untuk beraktivitas online di media sosial dari pada belajar. Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa ini membuat siswa malas untuk belajar dari buku catatan hingga akhirnya menurunkan prestasi belajar
Namun sebenarnya hal ini bisa disiasati yang akhirnya bisa membawa dampak baik dari pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa. Dengan memanfaatkan media sosial dalam proses belajar, pembelajaran para siswa bisa semakin menarik dan para siswa pun bisa jadi semakin termotivasi untuk belajar. Proses belajar sendiri sebenarnya merupakan sebuah proses penyampaian ilmu pengetahuan dan informasi. Hal ini sesuai dengan fungsi dan peran media sosial untuk menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan dengan cara yang lebih praktis dan interaktif.
Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar bisa dibawa ke arah yang lebih baik dengan menggunakan media sosial sebagai sarana pembelajaran. Para guru bisa membuat sebuah grup belajar di dalam media sosial dan bisa berbagi materi pembelajaran dengan format yang lebih menarik seperti video atau info dalam gambar. Selain itu para siswa juga bisa berbagi hasil temuannya tentang materi pelajaran yang disampaikan. Dengan begini, guru dan siswa bisa ikut aktif serta interaktif sehingga membawa dampak positif pada pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar.
Selain mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan, para siswa juga bisa belajar tentang teknologi informasi serta belajar memilih informasi yang benar untuk diserap dan dibagikan ke pada teman-teman serta gurunya. Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar juga menjadikan ruang kelas tanpa batas, yakni dengan proses pembelajaran e-learning yang tidak terbatas ruang kelas, jarak, dan waktu.
PAULO FREIRE
Teori Pendidikan Hadap Masalah
Pendidikan “hadap-masalah” sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri nara didik.
Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadaran intransitif , dimana seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelam dalam masa kini yang menindas.
Tingkat kesadaran kedua yakni kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup dalam ketergantungan.
Tingkat ketiga adalah kesadaran naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif, seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan berdebat tetapi bukan dialog.
Sedangkan tingkat kesadaran yang terakhir yakni kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.
CONTOH :
Penyalah gunaan Teknologi bagi kalangan siswa dpat mmembuat siswa menjadi tidak terfokus pada belajarnya dan yg menjadi faktor utama siswa adalah sosial media dan penyalah gunaan internet itu dapat membuat siswa menurun hasil belajarnya. Tetapi jika teknologi di manfaatkan untuh hasil yang positif ,aka itu sangat berguna untuk siswa
OLEH :
ZULFIANTO ABU BAKAR
SOSIOLOGI VI D
10538329515
Kecanggiham teknologi,
perkembangan internat, dan munclnya berbangai macam megdia sosial smakin
memudahkan kitaa untk mndapatkan informasi sertaa berkomunikasi. Keberadaan
teknologi, internet, serta media sosial membawa
pengaruh yang berbeda pada setiap orang. Dalam dunia pendidikan khususnya,
pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar sering terlihat sebagai
pengaruh buruk terhadap motivasi belajar siswa. Hal ini mungkin saja terjadi
karena siswa biasanya lebih memilih untuk beraktivitas online di media sosial
dari pada belajar. Pengaruh media sosial terhadap prestasi belajar siswa ini
membuat siswa malas untuk belajar dari buku catatan hingga akhirnya menurunkan
prestasi belajar
. Namun sebenarnya hal ini bisa
disiasati yang akhirnya bisa membawa dampak baik dari pengaruh media sosial
terhadap prestasi belajar siswa. Dengan memanfaatkan media sosial dalam proses
belajar, pembelajaran para siswa bisa semakin menarik dan para siswa pun bisa
jadi semakin termotivasi untuk belajar. Proses belajar sendiri sebenarnya
merupakan sebuah proses penyampaian ilmu pengetahuan dan informasi. Hal ini
sesuai dengan fungsi dan peran media sosial untuk menyebarkan informasi dan
ilmu pengetahuan dengan cara yang lebih praktis dan interaktif.
Pengaruh
media sosial terhadap prestasi belajar bisa dibawa ke arah yang lebih baik
dengan menggunakan media sosial sebagai sarana pembelajaran. Para guru bisa
membuat sebuah grup belajar di dalam media sosial dan bisa berbagi materi
pembelajaran dengan format yang lebih menarik seperti video atau info dalam
gambar. Selain itu para siswa juga bisa berbagi hasil temuannya tentang materi
pelajaran yang disampaikan. Dengan begini, guru dan siswa bisa ikut aktif serta
interaktif sehingga membawa dampak positif pada pengaruh media sosial terhadap
prestasi belajar.
Selain mengajarkan materi
pelajaran yang diajarkan, para siswa juga bisa belajar tentang teknologi
informasi serta belajar memilih informasi yang benar untuk diserap dan
dibagikan ke pada teman-teman serta gurunya. Pengaruh media sosial terhadap
prestasi belajar juga menjadikan ruang kelas tanpa batas, yakni dengan proses
pembelajaran e-learning yang tidak terbatas ruang kelas, jarak, dan waktu.
PAULO FREIRE
Teori Pendidikan
Hadap Masalah
Pendidikan
“hadap-masalah” sebagai pendidikan alternatif yang ditawarkan oleh Freire lahir
dari konsepsinya tentang manusia. Manusia sendirilah yang dijadikan sebagai
titik tolak dalam pendidikan hadap-masalah. Manusia tidak mengada secara
terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia dan
bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan
pada nara didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. Konsep pedagogis yang
demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk
berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya,
ekonomi dan politik. Kesadaran tumbuh dari pergumulan atas realitas yang
dihadapi dan diharapkan akan menghasilkan suatu tingkah laku kritis dalam diri
nara didik.
Freire membagi empat
tingkatan kesadaran manusia. Yang pertama adalah kesadaran intransitif , dimana
seseorang hanya terikat pada kebutuhan jasmani, tidak sadar akan sejarah dan
tenggelam dalam masa kini yang menindas.
Tingkat kesadaran kedua
yakni kesadaran semi intransitif atau kesadaran magis. Kesadaran ini terjadi
dalam masyarakat berbudaya bisu, dimana masyarakatnya tertutup. Ciri kesadaran
ini adalah fatalistis. Hidup berarti hidup di bawah kekuasaan orang lain atau hidup
dalam ketergantungan.
Tingkat ketiga adalah
kesadaran naif. Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk mempertanyakan dan
mengenali realitas, tetapi masih ditandai dengan sikap yang primitif dan naif,
seperti: mengindentifikasikan diri dengan elite, kembali ke masa lampau, mau
menerima penjelasan yang sudah jadi, sikap emosi kuat, banyak berpolemik dan
berdebat tetapi bukan dialog.
Sedangkan tingkat
kesadaran yang terakhir yakni kesadaran kritis transitif. Kesadaran kritis
transitif ditandai dengan kedalaman menafsirkan masalah-masalah, percaya diri
dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak. Pembicaraan bersifat dialog. Pada
tingkat ini orang mampu merefleksi dan melihat hubungan sebab akibat.
Bagi Freire pendidikan
yang membebaskan adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif.
Memang ia tidak bermaksud bahwa seseorang langsung mencapai tingkatan kesadaran
tertinggi itu, tetapi belajar adalah proses bergerak dari kesadaran nara didik
pada masa kini ke tingkatan kesadaran yang di atasnya.
CONTOH :
Penyalah
gunaan Teknologi bagi kalangan siswa dpat mmembuat siswa menjadi tidak terfokus
pada belajarnya dan yg menjadi faktor utama siswa adalah sosial media dan
penyalah gunaan internet itu dapat membuat siswa menurun hasil belajarnya. Tetapi
jika teknologi di manfaatkan untuh hasil yang positif ,aka itu sangat berguna
untuk siswa
OLEH:
ZULFIANTO ABU BAKAR
SOSIOLOGI VI D
10538329515
Dalam pendidikan yang ada di swkolah, Proses belajar mengajar merupakan suatu hal yang wajar di lakukan dan kita ketahui berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan banyak bergantung pada prestasi hasil belajar siswa, dengan adanya siswa yang kurang berprestasi dalam proses belajar, mungkin ada beberapa hambatan-hambatan sehingga prestasi belajar siswa menjadi berkurang termasuk pengaruh Ekonomi peserta didik. Ada beberapa faktor yg menghambat jika dipandang dari paradigma yg ada.
A. Paradigma Positivistik (Luar)
dari segi objek atau luar peserta didik yang menjadi penghambat ada beberapa yaitu keluarga dan pekerjaan
a. Keluarga
Keta ketahui bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama yang mempunyal peranan penting dalam menentukan dan membina proses perkembangan anak. Oleh karena itu ada kemungkinan bahwa masalah yang dialami siswa dl sekolah merupakan akibat atau lanjutan dari situasi lingkungan keluarga dan juga kurang nya ekonomi keluarga peserta didik akan sulit untuk menempatkan peserta didik di sekolah-sekolah yang tinggi contohnya: Sekolah Unggulan.
b. Pekerjaan Orang Tua Peserta Didik
Selain keluarga pekerjaan orang tua peserta didik juga menjadi faktor terpenting bagi prestasi sisiwa, sebab pekerjaan menentukan ekonomi keluarga siswa, ada kemungkinan dengan tingkat ekonomi rendah, prestasi belajar siswa juga menurun, karena sisiwa membutuhkan sumber materi seperti buku, teknologi yg menghasilkan internet, tapi untuk mendapatkan sumber materi itu dibutuhkan dana untuk memiliki barang tersebut.
B. Paradigma Pospositivistik
Positivistik (dalam) dari segi subjek peserta didik biasanya ada juga faktor dari dlam seperti ketidak inginan untuk belajar, sebab faktor kurangnya sumber materi yang ada sehingga peserta didik menjadi malas untuk belajar, ketidak mampuan ekonomi sehingga buku-buku sebagai sumber materi yg tidak dapat di beli, beda halnya bagi siswa yg mempunyai ekonomi yg sedang atau tinggi maka, pasti ada dorongan untuk belajar karena mampu untu membeli buku-buku materi.
C. Paradigma Kontruktivistik
Kontruktivistik gabungan antara positivistik (objek) dan Pospositivistik (subjek) pengaruh ekonomi terhadap prestasi sisiwa ada beberapa faktor yg menghambat hal tersebut seperti yang di jelaskan di atas jika dari segi Kontruktivistik maka yg menghambat prestasi sisiwa salah satunya adalah faktor dari lur dan dalam faktor dari luar adalah pekerjaan sebab kurangnya ekonomi maka akan susah untuk membeli bahan-bahan untuk belajar seperti buku, mater, atau teknologi yg berkaitan dengan internet, maka dari itu adanya faktor dari luar maka timbul pula faktor dari dalam karena kurang nya bahan materi maka peserta didik akan malas untk belajar.
D. Paradigma Posstrukturalis
2 wacana yg terjadi Pro dan kontra
a. Faktor Ekonomi tidak menentukan prestasi sisiwa.
Kenapa karena dalam pendidikan pasti ada semangat siswa untuk belajar, tidak ada pengaruh prestasi sisiwa jika betul-betul ingin menempuh pendidikan maka siswa itu aka bersungguhh-sungggu untuk belajar walaupun rintangan yg menghambat.
b. Faktor Ekonomi menentukan prestasi sisiwa.
Ada juga yg beranggapan bahwa prestasi sisiwa di tentukan oleh faktor ekonomi, sebab kurangnya ekonomi siswa sulit untuk mencari sumber materi yang ada dibuku dan tersebut harus di beli oleh siswa seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) dan hasil nya prestasi sisiwa akan menurun dibandingkan dengan siswa yg mampu.
E. Paradigma Kritis
Kurang nya bahan materi akan sulit untuk meningkatkan prestasi sisiwa, makanya siswa yg kurang mampu proses belajarbya akan terganggu. Maka dari itu bagi peserta didik yg tingkat ekonomi rendah harus ada bantuan dari pemerintah untuk membiayai peserta didik dalam menempuh Pendidikan agar prestasi sisiwa dapat meningkatkan prestasi sisiwa.